Validasi Diri Bukan dari Luar: Mengapa Kita Sering Terjebak Membuktikan Diri?
Kadang tanpa sadar, kita merasa perlu “berjuang” keras untuk membuktikan sesuatu — entah untuk terlihat kuat, benar, atau cukup berharga di mata orang lain. Tapi di balik dorongan itu, sering kali tersembunyi rasa takut ditolak, rasa tidak aman yang berasal dari bagian dalam diri yang pernah merasa sendirian dulu: inner child kita.
Semakin kita melawan, semakin besar juga energi yang terkuras. Karena sesungguhnya, yang kita lawan bukan situasi di luar, tapi ketidaknyamanan di dalam. Dan setiap kali kita berusaha memaksa keadaan agar sesuai keinginan kita, tubuh dan hati memberi sinyal — lewat lelah, tegang, atau emosi yang naik turun.
Momen seperti ini sebenarnya mengajak kita untuk berhenti sebentar. Bukan untuk menyerah, tapi untuk jujur pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya sedang aku perjuangkan? Pengakuan, rasa aman, atau cinta?
Ketika keberanian kita berubah arah — bukan lagi untuk “melawan” tapi untuk menghadapi dan memahami — di situlah kekuatan sejati tumbuh. Kita mulai bisa memecahkan pola lama, bukan karena ingin menang, tapi karena akhirnya kita memilih berdamai.
Proses pemulihan selalu dimulai dari kesadaran: bahwa tidak semua hal harus kita perangi. Beberapa hal justru pulih ketika kita berani membuka hati, menatap luka lama, dan memberi tempat bagi kasih sayang di dalam diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar