Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Aku Sudah Memaafkan, Tapi Kenapa Masih Sakit?

 Pernah tidak, kamu sudah mencoba berbagai cara berulang kali dan bilang, Aku ikhlas, aku sudah memaafkan dia. Tapi anehnya, rasa sakit itu masih sering muncul tiba-tiba. Ingatan tentang kejadiannya masih berputar-putar di kepala, dan dada tetap terasa sesak tiap kali teringat. Rasanya lelah ya, sudah berusaha memaafkan namun ganjalan itu tidak kunjung pergi. Sering kali, proses memaafkan ini baru sampai di level logika berpikir kita saja, namun belum menyentuh sampai ke dalam hati dan pikiran bawah sadar. Inilah kenapa tubuh masih "protes" melalui rasa sesak atau gelisah. Pikiran bawah sadar kamu mungkin masih menggenggam luka itu sebagai bentuk perlindungan diri. Di sinilah Hipnoterapi berperan sebagai jembatan untuk membantu kamu menjangkau hati lebih dalam. Tahap pertamanya bukan memaksa untuk langsung sembuh, tapi justru berani menerima dan menyadari bahwa luka itu memang masih ada. Kita belajar untuk "duduk bersama" dengan rasa sakit itu—mencoba mendengarka...

Luka Masa Kecil yang Diam-Diam Membentuk Cara Kita Bereaksi

Pernahkah kamu merasa, setiap kali punya tekad kuat, tiba-tiba semangatmu luruh hanya karena komentar orang lain? Dulu, aku terjebak dalam pola ini. Begitu dipatahkan, aku langsung berhenti. Ternyata, jawabannya tersimpan jauh di masa lalu. Sejak lahir, perjuanganku sudah dimulai. Aku lahir prematur dan mengalami keterlambatan perkembangan. Di saat anak seusianya sudah berlarian, aku yang berusia 3 tahun saat itu masih belum bisa berjalan. Kondisi fisikku sebagai tunanetra membuat orang tua berjuang lebih keras agar aku bisa mandiri. Aku baru benar-benar bisa berjalan di usia 4 tahun. Namun, di balik keberhasilan itu, ternyata ada luka yang tertinggal dalam ingatan bawah sadarku. Saat sedang menempuh sertifikasi untuk menjadi Hipnoterapis, aku memutuskan untuk mengambil sesi terapi pribadi. Aku ingin pulih, sekaligus ingin merasakan langsung: "Bagaimana rasanya menjalani terapi dari sudut pandang seorang tunanetra?" Di bawah panduan guruku, aku dipandu untuk kembali ke masa...

Divinasi Itu Peta, Bukan Takdir

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang klien. Di tengah percakapan, ia bercerita bahwa pernah mencoba melakukan analisa menggunakan metode Divinasi. Namun ia merasa ada beberapa hasil yang tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Lalu ia bertanya kepada saya, bagaimana sebenarnya sudut pandang saya tentang hal-hal seperti ini? Pertanyaan ini menarik, karena cukup banyak orang menggunakan berbagai metode seperti Astrologi, BaZi, Human Design, dan pendekatan Divinasi lainnya untuk mencari gambaran tentang masa depan. Ketika hasilnya terasa tepat, mereka percaya. Ketika terasa meleset, muncul keraguan. Menurut saya, alat-alat Divinasi pada dasarnya adalah alat bantu yang baik. Fungsinya bukan untuk mengunci masa depan, melainkan memberi panduan agar kita bisa lebih memperhatikan diri sendiri maupun situasi di luar sana. Ia membantu membaca potensi, kecenderungan, serta kemungkinan arah perjalanan hidup. Bayangkan ketika kita ingin pergi dari Jakarta ke Bandung untuk menghad...