Refleksiku Menyambut Tahun 2026
Menjelang akhir 2025, mungkin kita sama-sama merasakan satu hal: hidup terasa semakin cepat, ramai, dan mudah memancing reaksi. Sentimen datang dari mana-mana—media sosial, berita, percakapan, opini. Kadang sebelum sadar, tubuh sudah tegang, hati menghangat, pikiran ikut terseret. Di titik ini, satu kemampuan terasa semakin penting untuk kita bawa ke 2026: kemampuan untuk menjeda sebelum bereaksi. Bukan menahan emosi. Bukan mematikan perasaan. Melainkan memberi ruang kecil agar kita tidak langsung hanyut. Setiap kali sentimen terasa kencang—entah marah, tersinggung, takut, atau gelisah— kita bisa berhenti sejenak. Tarik napas. Lalu bertanya dengan jujur ke dalam diri: Apakah respons ini benar-benar berasal dari diriku? Atau ini hanya reaksi yang muncul karena suasana di luar sedang panas? Sering kali, pertanyaan ini saja sudah cukup untuk menurunkan gelombang pertama. Jika dorongan untuk bereaksi masih kuat, kita bisa melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih membumi: Apakah respons sep...