Postingan

Luka Masa Kecil yang Diam-Diam Membentuk Cara Kita Bereaksi

Pernahkah kamu merasa, setiap kali punya tekad kuat, tiba-tiba semangatmu luruh hanya karena komentar orang lain? Dulu, aku terjebak dalam pola ini. Begitu dipatahkan, aku langsung berhenti. Ternyata, jawabannya tersimpan jauh di masa lalu. Sejak lahir, perjuanganku sudah dimulai. Aku lahir prematur dan mengalami keterlambatan perkembangan. Di saat anak seusianya sudah berlarian, aku yang berusia 3 tahun saat itu masih belum bisa berjalan. Kondisi fisikku sebagai tunanetra membuat orang tua berjuang lebih keras agar aku bisa mandiri. Aku baru benar-benar bisa berjalan di usia 4 tahun. Namun, di balik keberhasilan itu, ternyata ada luka yang tertinggal dalam ingatan bawah sadarku. Saat sedang menempuh sertifikasi untuk menjadi Hipnoterapis, aku memutuskan untuk mengambil sesi terapi pribadi. Aku ingin pulih, sekaligus ingin merasakan langsung: "Bagaimana rasanya menjalani terapi dari sudut pandang seorang tunanetra?" Di bawah panduan guruku, aku dipandu untuk kembali ke masa...

Divinasi Itu Peta, Bukan Takdir

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang klien. Di tengah percakapan, ia bercerita bahwa pernah mencoba melakukan analisa menggunakan metode Divinasi. Namun ia merasa ada beberapa hasil yang tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Lalu ia bertanya kepada saya, bagaimana sebenarnya sudut pandang saya tentang hal-hal seperti ini? Pertanyaan ini menarik, karena cukup banyak orang menggunakan berbagai metode seperti Astrologi, BaZi, Human Design, dan pendekatan Divinasi lainnya untuk mencari gambaran tentang masa depan. Ketika hasilnya terasa tepat, mereka percaya. Ketika terasa meleset, muncul keraguan. Menurut saya, alat-alat Divinasi pada dasarnya adalah alat bantu yang baik. Fungsinya bukan untuk mengunci masa depan, melainkan memberi panduan agar kita bisa lebih memperhatikan diri sendiri maupun situasi di luar sana. Ia membantu membaca potensi, kecenderungan, serta kemungkinan arah perjalanan hidup. Bayangkan ketika kita ingin pergi dari Jakarta ke Bandung untuk menghad...

Refleksiku Menyambut Tahun 2026

Menjelang akhir 2025, mungkin kita sama-sama merasakan satu hal: hidup terasa semakin cepat, ramai, dan mudah memancing reaksi. Sentimen datang dari mana-mana—media sosial, berita, percakapan, opini. Kadang sebelum sadar, tubuh sudah tegang, hati menghangat, pikiran ikut terseret. Di titik ini, satu kemampuan terasa semakin penting untuk kita bawa ke 2026: kemampuan untuk menjeda sebelum bereaksi. Bukan menahan emosi. Bukan mematikan perasaan. Melainkan memberi ruang kecil agar kita tidak langsung hanyut. Setiap kali sentimen terasa kencang—entah marah, tersinggung, takut, atau gelisah— kita bisa berhenti sejenak. Tarik napas. Lalu bertanya dengan jujur ke dalam diri: Apakah respons ini benar-benar berasal dari diriku? Atau ini hanya reaksi yang muncul karena suasana di luar sedang panas? Sering kali, pertanyaan ini saja sudah cukup untuk menurunkan gelombang pertama. Jika dorongan untuk bereaksi masih kuat, kita bisa melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih membumi: Apakah respons sep...

Kenapa Hati Langsung Gelisah Saat Pesan Tak Dibalas? Memahami Ketergantungan Emosional dan Rasa Aman dalam Relasi

 Pernah mengalami suasana hati langsung berubah hanya karena pesan belum dibalas, nada bicara terasa berbeda, atau seseorang tiba-tiba lebih diam? Secara logika kita tahu orang bisa sibuk, capek, atau butuh waktu sendiri. Tapi tubuh keburu bereaksi: gelisah, tegang, pikiran muter, hati sulit tenang. Reaksi ini sering muncul begitu cepat, seolah ada sesuatu yang “tidak beres”, meski belum ada bukti apa pun. Yang sebenarnya terjadi sering bukan soal situasi saat ini, melainkan cara sistem emosi membaca sinyal. Tubuh menangkap jarak, diam, atau perubahan kecil sebagai ancaman. Bukan karena orang lain salah, tapi karena ada bagian diri yang belum merasa aman. Sistem emosi bekerja lebih cepat dari pikiran sadar, jadi sebelum sempat berpikir jernih, tubuh sudah masuk mode siaga. Di titik inilah pola ketergantungan emosional mulai terbentuk. Bukan karena kita lemah atau manja, tapi karena di masa awal kehidupan, rasa aman dalam hubungan tidak selalu hadir secara konsisten. Kadang ditemani, k...

Self-Sabotage: Kenapa Kita Justru Menghambat Diri Saat Kesempatan Baik Datang?

 Kadang hidup memberi kita sesuatu yang dari luar tampak sebagai “langkah maju”: kesempatan kerja yang sudah lama ditunggu, peran baru yang membuat kita bangga, orang yang percaya pada kemampuan kita, atau ruang untuk menunjukkan kualitas diri. Anehnya, justru pada titik seperti itu banyak orang mulai mengalami benturan batin yang tidak terlihat. Secara logika, kita tahu kesempatan itu bagus. Tapi secara emosional, tubuh bereaksi sebaliknya: cemas, tegang, nggak tenang, bahkan cenderung ingin menghindar. Tiba-tiba muncul pikiran seperti: “Aku takut salah.” “Aku belum layak.” “Kalau gagal, semua orang bakal lihat.” “Lebih baik mundur daripada nanti malu.” Dan tanpa sadar, kita mulai melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri: Menunda hal penting padahal sebenarnya mampu. Memperumit hal yang sederhana. Overthinking sampai capek sendiri. Menghindari tanggung jawab yang justru bisa membawa hidup maju. Fokus pada hal kecil agar tidak berurusan dengan hal yang besar. Menurunkan standar dir...

Validasi Diri Bukan dari Luar: Mengapa Kita Sering Terjebak Membuktikan Diri?

Kadang tanpa sadar, kita merasa perlu “berjuang” keras untuk membuktikan sesuatu — entah untuk terlihat kuat, benar, atau cukup berharga di mata orang lain. Tapi di balik dorongan itu, sering kali tersembunyi rasa takut ditolak, rasa tidak aman yang berasal dari bagian dalam diri yang pernah merasa sendirian dulu: inner child kita. Semakin kita melawan, semakin besar juga energi yang terkuras. Karena sesungguhnya, yang kita lawan bukan situasi di luar, tapi ketidaknyamanan di dalam. Dan setiap kali kita berusaha memaksa keadaan agar sesuai keinginan kita, tubuh dan hati memberi sinyal — lewat lelah, tegang, atau emosi yang naik turun. Momen seperti ini sebenarnya mengajak kita untuk berhenti sebentar. Bukan untuk menyerah, tapi untuk jujur pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya sedang aku perjuangkan? Pengakuan, rasa aman, atau cinta? Ketika keberanian kita berubah arah — bukan lagi untuk “melawan” tapi untuk menghadapi dan memahami — di situlah kekuatan sejati tumbuh. Kita mulai bisa ...