Refleksiku Menyambut Tahun 2026


Menjelang akhir 2025, mungkin kita sama-sama merasakan satu hal:

hidup terasa semakin cepat, ramai, dan mudah memancing reaksi.

Sentimen datang dari mana-mana—media sosial, berita, percakapan, opini.

Kadang sebelum sadar, tubuh sudah tegang, hati menghangat, pikiran ikut terseret.

Di titik ini, satu kemampuan terasa semakin penting untuk kita bawa ke 2026:

kemampuan untuk menjeda sebelum bereaksi.

Bukan menahan emosi.

Bukan mematikan perasaan.

Melainkan memberi ruang kecil agar kita tidak langsung hanyut.

Setiap kali sentimen terasa kencang—entah marah, tersinggung, takut, atau gelisah—

kita bisa berhenti sejenak. Tarik napas.

Lalu bertanya dengan jujur ke dalam diri:

Apakah respons ini benar-benar berasal dari diriku?

Atau ini hanya reaksi yang muncul karena suasana di luar sedang panas?

Sering kali, pertanyaan ini saja sudah cukup untuk menurunkan gelombang pertama.

Jika dorongan untuk bereaksi masih kuat, kita bisa melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih membumi:

Apakah respons seperti ini akan bermanfaat untuk diriku?

Atau setidaknya tidak merugikan diriku sendiri?

Dan satu langkah berikutnya:

Apakah respons ini bermanfaat untuk orang lain?

Atau minimal tidak menyakiti, tidak memperkeruh, tidak menambah beban siapa pun?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri.

Justru ini cara sederhana untuk merawat diri dan relasi.

Tahun 2026 akan menuntut kedewasaan yang berbeda.

Bukan karena hidup menjadi lebih keras,

melainkan karena arusnya semakin kuat dan cepat.

Ibarat ombak, kita tidak bisa menghentikannya.

Namun kita bisa belajar berselancar di atasnya—

menjaga keseimbangan, membaca arah, dan tidak panik setiap kali ombak datang.

Begitu juga dengan emosi.

Energi yang muncul di dalam diri ibarat api.

Api ini bisa digunakan untuk menyalakan semangat bertumbuh,

atau membakar diri sendiri lewat reaksi yang terburu-buru.

Akhir 2025 adalah waktu yang baik untuk bertanya dengan jujur:

energi ini ingin aku arahkan ke mana?

Kita tidak perlu perubahan besar sekaligus.

Cukup mulai dari hal kecil yang bisa dijalani:

menjeda, menyadari napas, dan memilih respons dengan sadar.

Menutup tahun ini, mari kita tidak membawa beban tambahan ke tahun depan.

Kita bawa satu bekal saja:

kesediaan untuk hadir, menjeda, dan memilih arah dengan lebih tenang.

Pelan tidak apa-apa.

Menjeda bukan kelemahan.

Dan memilih respons dengan sadar adalah bentuk kepedulian pada diri sendiri dan orang lain. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini