“Anak Terlalu Penurut Bukan Selalu Tanda Baik: Luka Batin yang Bisa Terbentuk Tanpa Disadari Orang Tua”

Pernah nggak kamu merasa bangga sekali karena punya anak yang sangat penurut? Rasanya tenang ya, kalau anak kita itu pinter banget, apa pun yang kita omongin didengar, bisa anteng, diam, dan kelihatan sayang banget sama kita tanpa pernah membantah sedikit pun. Kita sering menganggap ini adalah tanda suksesnya kita mendidik anak. Tapi sebagai praktisi hipnoterapi, aku ingin mengajakmu melihat lebih dalam. Di balik kepatuhan yang "sempurna" itu, sering kali ada program bawah sadar yang sedang merekam bahwa penolakan adalah ancaman bagi rasa amannya, persis seperti yang dialami Aurélie dalam buku Broken Strings.


Dalam keseharian, mungkin kita nggak sadar saat anak ingin main sebentar lagi tapi kita paksa berhenti, atau saat dia nggak suka makanan tertentu tapi kita haruskan habis demi "menghargai" kita. Kalau setiap kali dia mencoba bilang "nggak mau", kita langsung membalas dengan wajah kecewa atau nada bicara yang dingin, batin anak mulai belajar satu hal: suaranya nggak penting. Dia belajar bahwa untuk tetap disayang dan dianggap "anak baik", dia harus memendam keinginannya sendiri. Di sinilah akar luka itu muncul, di mana kepatuhan buta dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan cinta.


Masalahnya, kepatuhan karena rasa takut ini sebenarnya sangat tidak sehat. Di buku itu digambarkan bagaimana sulitnya Aurélie menentukan pilihannya sendiri karena dia sudah terbiasa "nurut" tanpa celah. Saat anak tidak punya ruang untuk berkata "tidak" di rumah, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang kehilangan batasan diri. Dia jadi nggak tahu mana yang benar-benar dia mau dan mana yang hanya dia lakukan untuk menyenangkan orang lain. Batinnya lelah karena harus terus-menerus memakai "topeng" penurut, sementara di dalamnya dia merasa asing dengan dirinya sendiri karena harga diri yang perlahan terkikis.


Sekarang, coba kita ubah cara kita mendampingi mereka saat terjadi perbedaan keinginan. Alih-alih langsung memaksakan kehendak, coba kita ajak berdialog untuk mencari kesepakatan bersama. Misalnya saat dia menolak berhenti main, kita bisa bilang, "Papa/Mama paham kamu lagi seru main, tapi kita harus pergi sebentar lagi. Menurut kamu, berapa menit lagi waktu yang kamu butuhin buat selesaikan mainnya supaya kita nggak telat?" Di sini kita sedang melatihnya untuk bernegosiasi dan merasa bahwa pendapatnya dihargai. Kita nggak lagi mendikte, tapi sedang bekerja sama.


Dengan mengajak berdialog sampai menemukan kesepakatan, kita sedang menghapus program kepatuhan buta dan menggantinya dengan program harga diri serta tanggung jawab. Kita ingin mereka tahu bahwa mereka tetap dicintai meskipun punya pendapat berbeda. Kita ingin anak kita tumbuh menjadi jiwa yang teguh, yang tahu kapan harus berkata "iya" dengan tulus dan kapan harus berkata "tidak" dengan berani karena dia tahu cara menyampaikan keberatannya dengan cara yang sehat. Kita sedang mempersiapkan mereka menjadi orang dewasa yang punya integritas, bukan sekadar pengikut yang mudah dikendalikan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Hati Langsung Gelisah Saat Pesan Tak Dibalas? Memahami Ketergantungan Emosional dan Rasa Aman dalam Relasi

“Kenapa Setelah Bertemu Orang Kamu Malah Merasa Bersalah? Ternyata Ini Luka Batin yang Bekerja Diam-Diam”