“Beda Pendapat Sedikit Tapi Hati Langsung Sesak? Mungkin Ini yang Terjadi di Dalam Dirimu”

Pernah nggak sih, kamu lagi ngobrol sama teman atau pasangan, terus dia nggak setuju sama pendapatmu, dan tiba-tiba dadamu terasa sesak? Bukannya mikir "oh dia punya sudut pandang lain," kamu malah merasa kayak lagi dipojokkan, direndahkan, atau bahkan nggak dihargai sama sekali.

Kalau kamu sering merasakannya, aku ingin bilang: Kamu nggak sendirian, dan itu bukan salahmu.

Aku paham, mungkin dulu kamu tumbuh di lingkungan yang nggak ngebiasain diskusi. Banyak dari kita yang dibesarkan oleh orang tua atau sistem yang menganggap kalau anak baik itu adalah anak yang patuh. Saat itu, punya opini beda sedikit saja bisa dianggap "ngelawan" atau nggak sopan.

Karena sejak kecil kita nggak diajarkan cara beradu argumen dengan sehat, otak kita merekam satu pola: Setuju itu aman, beda pendapat itu bahaya.

Makanya, pas sudah gede, beda pendapat dikit rasanya kayak serangan fisik. Rasanya kayak harga diri kita lagi diinjak-injak, padahal mungkin mereka cuma sekadar beda selera atau pandangan aja.

Aku ingin kamu tahu, apa yang kamu pikirkan itu bukan siapa kamu. Jadi, saat orang lain nggak setuju sama pendapatmu, itu bukan berarti mereka nggak suka sama kamu sebagai pribadi.

Kita merasa "dihina" karena kita belum terbiasa memisahkan antara identitas diri dan isi kepala. Karena dulu kita dipaksa buat selalu sama dengan kemauan orang tua, kita jadi merasa kalau kita "beda", kita bakal ditolak atau nggak disayang lagi.


Yuk, kita coba belajar bareng untuk mulai menerima kalau perbedaan itu nggak berbahaya:

Sadar saat emosi naik: Pas kamu ngerasa pengen marah atau nangis gara-gara beda pendapat, coba tarik napas. Bilang ke diri sendiri, "Aku aman, ini cuma beda pikiran, bukan serangan ke aku."

Belajar bilang "Oh, gitu ya": Kamu nggak harus selalu menang dalam argumen, dan kamu nggak harus selalu setuju. Belajar dengerin tanpa harus merasa terancam adalah bentuk kedewasaan emosi yang keren banget.

Berani punya suara: Mulailah percaya kalau suaramu itu berharga, meski nggak semua orang setuju. Kamu nggak perlu lagi jadi "si penurut" buat bisa diterima.

Pelan-pelan ya. Memulihkan pola pikir yang sudah bertahun-tahun itu butuh waktu. Tapi aku yakin, kamu pasti bisa punya hubungan yang lebih sehat tanpa harus takut lagi sama perbedaan.

Jika kamu membutuhkan pendampingan lebih dalam, hipnoterapi bisa jadi pilihan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Hati Langsung Gelisah Saat Pesan Tak Dibalas? Memahami Ketergantungan Emosional dan Rasa Aman dalam Relasi

“Kenapa Setelah Bertemu Orang Kamu Malah Merasa Bersalah? Ternyata Ini Luka Batin yang Bekerja Diam-Diam”

“Anak Terlalu Penurut Bukan Selalu Tanda Baik: Luka Batin yang Bisa Terbentuk Tanpa Disadari Orang Tua”