Divinasi Itu Peta, Bukan Takdir
Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang klien. Di tengah percakapan, ia bercerita bahwa pernah mencoba melakukan analisa menggunakan metode Divinasi. Namun ia merasa ada beberapa hasil yang tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Lalu ia bertanya kepada saya, bagaimana sebenarnya sudut pandang saya tentang hal-hal seperti ini?
Pertanyaan ini menarik, karena cukup banyak orang menggunakan berbagai metode seperti Astrologi, BaZi, Human Design, dan pendekatan Divinasi lainnya untuk mencari gambaran tentang masa depan. Ketika hasilnya terasa tepat, mereka percaya. Ketika terasa meleset, muncul keraguan.
Menurut saya, alat-alat Divinasi pada dasarnya adalah alat bantu yang baik. Fungsinya bukan untuk mengunci masa depan, melainkan memberi panduan agar kita bisa lebih memperhatikan diri sendiri maupun situasi di luar sana. Ia membantu membaca potensi, kecenderungan, serta kemungkinan arah perjalanan hidup.
Bayangkan ketika kita ingin pergi dari Jakarta ke Bandung untuk menghadiri undangan pernikahan teman. Kita membuka Google Maps untuk mencari tahu rute tercepat. Dari situ kita bisa menyusun jadwal, menentukan waktu berangkat, dan memperkirakan perjalanan supaya sampai tepat waktu. Peta memberi gambaran. Namun keputusan tetap ada di tangan kita.
Begitu pula seorang pilot sebelum terbang. Mereka memeriksa rencana jalur penerbangan dan mengecek prakiraan cuaca agar tahu rute mana yang minim guncangan. Setelah itu barulah dibuat rencana penerbangan yang matang sebelum lepas landas. Perencanaan itu penting, tetapi kondisi di udara tetap bisa berubah. Pilot tetap harus responsif terhadap situasi yang terjadi.
Lalu kenapa jika Divinasi hanya dijadikan patokan untuk mencari tahu masa depan, hasilnya bisa terasa meleset?
Karena masa depan bukan satu kemungkinan tunggal. Ia terdiri dari banyak jalur. Analisa membaca potensi dalam diri kita, tetapi hasil akhirnya sangat ditentukan oleh langkah yang kita ambil.
Contoh yang paling sering saya temui di media sosial adalah soal analisa jodoh. Banyak orang terjebak pada pertanyaan seperti, “Kapan saya dapat jodoh?” atau “Ciri-cirinya seperti apa?” Setelah mendapatkan jawaban, mereka cenderung menunggu.
Padahal, jika hasil analisa mengatakan kita berpotensi mendapatkan pasangan yang baik, tetapi kita hanya berdiam diri di rumah, masih penuh luka batin, dan trauma yang belum dibereskan, maka potensi itu tidak akan terwujud.
Logikanya sederhana. Orang yang berkualitas pun memiliki hak untuk memilih orang-orang baik lainnya di luar sana. Tidak mungkin kita mendapatkan yang terbaik jika kita sendiri tidak mau bergerak dan memperbaiki kualitas diri.
Di sinilah menurut saya letak penggunaan yang lebih bijak. Daripada hanya fokus pada “kapan” dan “siapa”, akan jauh lebih bermanfaat jika Divinasi dipakai untuk mencari tahu: apa yang perlu diperbaiki dari dalam diri agar kita benar-benar siap ketika kesempatan itu datang.
Apakah kita perlu meningkatkan keterampilan? Menyembuhkan luka lama? Memperbaiki pola relasi? Menguatkan mental dan kedewasaan emosional?
Seakurat apa pun peta yang kita miliki, jika kita tidak berbenah atau salah mengambil langkah, potensi masa depan yang baik tidak akan pernah benar-benar kita capai.
Pada akhirnya, Divinasi adalah kompas, bukan takdir. Ia membantu kita membaca arah, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab untuk melangkah. Dan sering kali, perubahan terbesar bukan terjadi saat kita mengetahui masa depan, melainkan saat kita memutuskan untuk bertumbuh hari ini.
Komentar
Posting Komentar