Luka Masa Kecil yang Diam-Diam Membentuk Cara Kita Bereaksi

Pernahkah kamu merasa, setiap kali punya tekad kuat, tiba-tiba semangatmu luruh hanya karena komentar orang lain? Dulu, aku terjebak dalam pola ini. Begitu dipatahkan, aku langsung berhenti. Ternyata, jawabannya tersimpan jauh di masa lalu.


Sejak lahir, perjuanganku sudah dimulai. Aku lahir prematur dan mengalami keterlambatan perkembangan. Di saat anak seusianya sudah berlarian, aku yang berusia 3 tahun saat itu masih belum bisa berjalan.

Kondisi fisikku sebagai tunanetra membuat orang tua berjuang lebih keras agar aku bisa mandiri. Aku baru benar-benar bisa berjalan di usia 4 tahun. Namun, di balik keberhasilan itu, ternyata ada luka yang tertinggal dalam ingatan bawah sadarku.


Saat sedang menempuh sertifikasi untuk menjadi Hipnoterapis, aku memutuskan untuk mengambil sesi terapi pribadi. Aku ingin pulih, sekaligus ingin merasakan langsung: "Bagaimana rasanya menjalani terapi dari sudut pandang seorang tunanetra?"

Di bawah panduan guruku, aku dipandu untuk kembali ke masa kecil. Saat itu, muncullah momen ketika aku berusia 3 tahun yang sedang berjuang belajar jalan. Aku mengamati kembali suasana saat aku menjalani fisioterapi di rumah sakit.


Sayangnya, memori yang muncul justru menyesakkan. Aku yang masih balita dan ringkih sering dibentak oleh terapisnya. Setiap sesi terapi menjadi momen yang menakutkan, bukan menyemangati. Aku menangis, merasa sangat terintimidasi.

Ada pula memori saat aku dibawa ke tukang pijat tradisional. Ketika orang tua sedang tidak mengawasi, oknum tersebut memarahiku sambil memijat, bahkan mengancam akan memberi balsem pedas jika aku tidak diam.


Bayangkan, aku yang masih kecil, tidak bisa memperhatikan keadaan sekitar secara visual, & belum bisa berjalan, harus menghadapi situasi itu. Tanpa kusadari, pengalaman itu mengunci program di pikiranku: "Kalau ada orang bersuara keras, lebih baik aku berhenti agar aman."

Dalam sesi tersebut, aku dipandu untuk melakukan Release Emosi. Rasa tidak nyaman yang tersimpan di sel tubuhku diizinkan untuk keluar  hingga terasa nyaman.


Setelah emosi rilis, aku dipandu memeluk diri kecilku. Aku yang dewasa hadir memberi rasa aman. Aku lega saat memberi pengertian bahwa badai telah lewat. Kini, dia aman dalam penjagaanku.


Pengalaman ini jadi modal berharga. Sekarang, saat ada yang mematahkan semangat, aku tetap tegak dan fokus pada rencana karena rasa aman dalam diriku sudah pulih.


Melalui hipnoterapi, bukan berarti ingatanku tentang masa lalu itu hilang. Ingatannya masih ada, namun rasa sakit yang menyertainya telah dilepaskan. Aku dipandu untuk mengubah makna dari setiap kejadian pahit itu menjadi kekuatan untuk bertumbuh. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Hati Langsung Gelisah Saat Pesan Tak Dibalas? Memahami Ketergantungan Emosional dan Rasa Aman dalam Relasi

Validasi Diri Bukan dari Luar: Mengapa Kita Sering Terjebak Membuktikan Diri?

Self-Sabotage: Kenapa Kita Justru Menghambat Diri Saat Kesempatan Baik Datang?