"Menemui Diri Kecil yang Terluka: Sebuah Perjalanan Pulang Menuju Tenang"
Dua minggu lalu, saya mengalami rasa gelisah yang tidak biasa. Hari itu, saya merasa mudah sekali ter-trigger oleh omongan orang-orang di sekitar. Awalnya saya tidak memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi, sampai akhirnya saya memutuskan untuk duduk diam dan mulai mengamati ke dalam diri.
Sebagai praktisi yang mendalami pikiran bawah sadar dan energi, saya paham bahwa kegelisahan ini sering kali bukan masalah baru, melainkan "alarm" dari memori lama yang belum tuntas. Benar saja, saat saya masuk ke kondisi tenang, muncul diri kecil saya di usia tujuh tahun dengan perasaan dominan yang sangat menyesakkan: rasa tidak berharga dan merasa menjadi beban untuk orang lain.
Memori itu membawa saya pada momen penolakan yang tampak sederhana, tapi membekas sangat dalam bagi saya saat itu. Saya teringat saat orang tua mau pergi berbelanja dan saya ingin ikut, tapi mereka bilang, "Di rumah dulu aja, ini cuma mau belanja, bukan jalan-jalan." Dalam pikiran bawah sadar anak kecil saya, kalimat itu terdistorsi. Saya merasa ditolak karena kondisi saya yang tunanetra. Saya merasa akan menjadi beban kalau ikut karena harus dituntun ke mana-mana.
Perasaan "merepotkan" ini tertanam kuat, hingga terbawa ke momen lain saat saya ingin bermain dengan teman sebaya yang lebih dewasa. Saat itu mereka bermain sepatu roda, dan demi bisa diterima serta membuktikan saya bukan beban, saya memaksakan diri ikut meski saya tahu saya tidak bisa. Saya terjatuh sangat keras hingga tulang belakang sakit selama beberapa minggu. Saking sakitnya, suara teriakan saya pun sampai tertahan di tenggorokan.
Rasa sakit fisik itu bukan sekadar cedera, tapi menyimpan rekaman rasa malu dan takut yang terkunci di memori tubuh. Inilah mengapa kegelisahan hari ini muncul; karena ada sesuatu di masa sekarang yang memicu memori bawah sadar tersebut untuk minta dipulihkan.
Dalam sesi self-healing dua minggu lalu itu, saya tidak lagi mencoba melupakan kejadian itu. Sambil tetap memperhatikan masuk dan keluarnya napas, saya memeluk diri kecil itu secara batin dan melakukan proses energy healing ke bagian-bagian yang tidak nyaman. Saya biarkan tubuh merespons dengan munculnya rasa sakit perut dan keinginan untuk terus bersendawa.
Ini adalah cara tubuh melakukan pelepasan emosi yang tersumbat. Setelah saya temani selama 15 menit, sumbatan itu lepas, berganti dengan rasa hangat dan tenang yang menjalar ke seluruh tubuh. Memulihkan luka lama memang butuh keberanian untuk hadir dan menemani rasa sakit itu tanpa menghakimi.
Jika kamu sering merasa gelisah tanpa alasan yang jelas, mungkin itu pesan dari bawah sadarmu untuk mengajakmu kembali "menemui" bagian dirimu yang sedang terluka. Pemulihan sejati terjadi saat kita berhenti melawan rasa sakit dan mulai menemaninya sampai ia siap untuk dilepaskan.
Jika kamu merasa terjebak dalam kegelisahan yang sama, mari kita bicara dan temukan jalan pulang menuju tenangmu kembali.
Komentar
Posting Komentar