Kisah Lahirnya Web Ansoku_Healing
Di luar pekerjaan saya sebagai hipnoterapis dan energy healer, mempelajari teknologi adalah salah satu hobi saya. Alasannya sederhana: sebagai tunanetra, saya sadar teknologi sangat membantu aktivitas sehari-hari. Karena itu saya berusaha terus mengikuti perkembangan baru sebisa saya. Membaca fitur, mencoba aplikasi, kadang bingung, kadang gagal — tapi selalu ada rasa senang setiap memahami sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.
Dari kebiasaan itu muncul keinginan kecil: saya ingin punya rumah digital sendiri. Tempat untuk menaruh tulisan motivasi, perjalanan healing, dan memudahkan orang mengikuti sesi healing mingguan yang saya lakukan setiap minggu malam.
Tahun lalu saya akhirnya membeli domain pertama. Dengan semangat, saya mencoba membangun website menggunakan WordPress. Tapi di sinilah saya sadar: saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang saya lakukan. Hosting, instalasi, konfigurasi — semuanya terasa rumit. Website tidak pernah berhasil jadi.
Akhirnya saya merasa buntu. Bukan tidak mau melanjutkan, tapi benar-benar tidak tahu harus belajar dari mana. Impian punya website itu akhirnya saya tinggalkan dulu. Domain tersebut saya anggap sebagai biaya belajar, lalu saya mengabaikan rencana membuat web untuk sementara waktu.
Februari 2026, keinginan itu muncul lagi. Saya tiba-tiba teringat pepatah dari Alexander Graham Bell:
“When one door closes, another opens.”
Kalimat itu seperti pengingat sederhana. Saya memutuskan mencoba lagi dari awal. Kali ini saya membeli domain melalui Biznet Gio, berharap prosesnya bisa lebih mudah saya pahami dibanding sebelumnya.
Setelah domain aktif, saya kembali mencoba instalasi lewat WordPress. Saya pikir kali ini akan berhasil. Tapi ternyata tetap sama — saya masih kebingungan dengan pengaturannya. Website kembali tidak berjalan seperti yang saya harapkan.
Lalu saya teringat sesuatu: saya sebenarnya punya blog di Blogspot yang saya buat tahun 2025, jarang saya isi. Dari situ muncul ide sederhana — bagaimana kalau domain ini saja yang dihubungkan ke Blogspot?
Saya mulai belajar menghubungkan domain ke Blogspot. Di sinilah petualangan sebenarnya dimulai. Mengatur DNS, memasukkan CNAME, memilih tipe record — semuanya terasa seperti bahasa baru. Beberapa kali saya salah memasukkan data, bahkan terbalik antara name dan value.
Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya website bisa dibuka menggunakan www
. Rasanya senang sekali. Tapi ternyata masalah belum selesai. Link tidak bisa dibuka dari WhatsApp karena HTTPS belum aktif.
Saya kembali belajar lagi. Ternyata harus menambahkan record DNS tipe A dan memasukkan IP address tertentu. Saya sampai menghafal angka-angkanya karena berkali-kali salah mengetik. Status verifikasi SSL terus gagal dan membuat saya hampir menyerah lagi.
Akhirnya saya memilih berhenti sejenak dan membiarkan sistem bekerja sendiri. Saya tidak mengutak-atik apa pun lagi. Hanya menunggu.
Keesokan harinya saya membuka kembali pengaturannya. Status berubah. HTTPS aktif. Website akhirnya berjalan normal. Momen sederhana, tapi rasanya seperti membuka pintu yang dulu terasa tidak mungkin terbuka.
Perjalanan belum selesai. Saya masih belajar mengatur tampilan halaman, membuat menu khusus agar orang yang ingin ikut sesi healing bisa langsung masuk terhubung ke Google Meet dengan mudah.
Pelan-pelan semuanya mulai sesuai dengan yang saya bayangkan. Rumah digital itu akhirnya benar-benar ada:
ansokuhealing.web.id
— ruang kecil yang saya bangun dari rasa penasaran, kegagalan, dan proses belajar yang panjang.
Kegagalan tahun lalu membuat saya tidak mencoba dengan .com
Saya sadar, membangun website ternyata mirip perjalanan pemulihan batin. Kita hanya melakukan bagian yang mampu kita lakukan hari ini. Sisanya berjalan diam-diam di belakang layar, sampai suatu hari hasilnya muncul.
Kadang yang kita butuhkan bukan kemampuan besar, tapi keberanian untuk mencoba lagi setelah merasa buntu. Karena mungkin, setiap proses — baik teknologi maupun healing — selalu dimulai dari satu langkah kecil yang tidak kita hentikan.
Komentar
Posting Komentar