"Menjaga Pikiran di Tengah Stigma: Bagaimana Cara Menyikapi Perkataan Kurang Tepat Tentang Anak Berkebutuhan Khusus?
Beberapa waktu lalu, aku dan istri sedang dalam perjalanan membawa anak kami pergi terapi. Di tengah perjalanan, anakku tertawa-tawa senang sekali, suaranya terdengar ceria. Seseorang yang mengantar kami kemudian bertanya, adik mau diajak ke mana ya kok senang sekali.
Kami pun bercerita kalau kami sedang menuju tempat terapi. Mendengar itu, orang tersebut menyahut dengan nada yang cukup semangat. Beliau bilang, oh adik lagi senang ya karena penyakitnya mau dibuang, biar cepat sembuh ya penyakitnya dibuang.
Beliau bahkan mengulanginya berkali-kali, mendoakan supaya penyakit si kecil cepat diangkat dan segera hilang. Aku yang mengamati situasi ini lewat rasa, menyadari kalau ia menggunakan bahasa yang kurang tepat. Namun, aku memilih untuk tetap tenang dan lebih memperhatikan energi baik dari doanya itu.
Aku kemudian merespons dengan santai, seolah-olah mewakili anakku yang sedang ceria. Aku bilang, makasih om. Bagiku, tidak ada gunanya mendebat istilah yang ia pakai, karena aku tahu niatnya sebenarnya ingin menyemangati kami.
Mengalami menjadi tunanetra sejak kecil, membuat aku sudah terbiasa saat orang lain memberikan label atau sebutan kurang tepat karena mereka memang tidak mengerti. Aku tidak ingin reaktif, apalagi sampai merusak suasana hati anakku yang tadi sedang tertawa bahagia.
Bagi kami, perjalanan ke tempat terapi ini bukan soal membuang penyakit, tapi soal menemani proses tumbuh kembang si kecil. Aku cukup menyimpan pemahaman itu untuk diriku sendiri, sambil tetap menghargai kepedulian orang lain yang kami temui di jalan.
Ternyata hidup terasa lebih ringan saat kita tidak mudah tersinggung dengan ucapan orang lain yang lahir dari ketidaktahuan. Fokusku tetap satu, yaitu menjaga agar anakku tetap merasa nyaman dan didukung sepenuhnya oleh orang tuanya.
Semangat untuk teman-teman orang tua yang juga sedang berjuang mendampingi anaknya. Mari kita terus mendampingi setiap langkah kecil anak-anak kita dengan rasa syukur dan hati yang terbuka.
Komentar
Posting Komentar